Mereka berkoordinasi dalam mengatur pasokan minyak sehingga negara-negara teluk membutuhkan hubungan kerja sama dengan Putin.
Kedua, pengaruh rusia dalam konflik Asia Barat adalah faktor yang sangat penting. Putin mengontrol wilayah udara di Suriah. Putin memegang pengaruh yang cukup besar di Iran juga.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Rusia dan UEA mendukung pihak yang sama di Libya, makanya kemarahan Putin adalah mimpi buruk UEA.
Sama halnya, Israel membutuhkan wilayah udara Suriah untuk menargetkan proksi Iran. Israel membutuhkan pengaruh Putin atas Teheran. Jadi sekali lagi, kepentingan nasional mengalahkan ideologi atau prinsip atau apapun sebutannya. Israel telah mengutuk invasi tetapi tidak ingin memusuhi Putin lebih lanjut. Saya tidak akan menyebut Israel "bermuka dua", namun tanggapan Israel ini bisa disebut "Licik".
Sebagian besar kepentingan nasional yang menentukan reaksi negara-negara terhadap perang bergantung pada faktor geografis. Perang yang sedang kita saksikan sekarang terjadi di Eropa. Jadi barat dan Asia Selatan terisolasi dari pertempuran.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
Indonesia sendiri tidak bersuara sama sekali sampai pada Kamis kemarin (24/2) lewat cuitan yang terkesan "malu-malu", saat bom sudah meledak di seantero Ukraina. Menurut saya, presiden Jokowi mengambil langkah tepat. Perang utama kita saat ini adalah Covid dan korupsi.
Tetapi di Eropa perubahan besar sedang terjadi, perang Putin mengubah tatanan eropa pasca perang dingin.
Jerman memimpin perubahan tersebut, sejak Perang Dunia II Berlin telah menjadi kekuatan yang enggan pada militer, dan pada diplomasi Jerman mengekori jejak Amerika.